Vinyl = Rilisan Yang Sempurna? Eits, Nanti Dulu

Vinyl = Rilisan Yang Sempurna? Eits, Nanti Dulu

Tidak semua rilisan piringan hitam itu sempurna

862
0
SHARE

Tak selamanya vinyl itu sempurna.

Nggak kerasa sampai hari ini, makin marak orang mengumpulkan vinyl, makin banyak muncul penggemar/penggila vinyl atau piringan hitam. Banyak dari mereka bilang (kepada saya) kalau vinyl punya suara yang lebih tajam dan lebih lebar. Well, somehow vinyl memang punya kelebihan seperti yang disebutin tadi.

Tulisan ini bukan bermaksud mengkritisi keberadaan vinyl. Namun sepanjang vinyl yang saya koleksi dan yang saya temukan di perjalanan saya mengumpulkan atau mendengarkan vinyl. Nggak semua vinyl ternyata punya suara yang bagus.

Saya punya cerita ketika saya mendengarkan rilisan vinyl yang dibuat Mesra Records (salah satu label Indonesia populer di tahun 70-an). Begitu didengar, rekamannya tidak terdengar proper. Banyak sound yang ‘mendem’ terkesan seperti rekaman 4-track ketimbang rekaman profesional. Ambil contoh Koes Plus, Panbers, apapun yang ada di rekaman ini.

Bisa jadi mungkin bukan karena vinyl-nya tapi karena studionya. Mungkin saja. Karena jika saya mendengarkan rekaman-rekaman vinyl via label Remaco, hasilnya sangat jauh berbeda.

Koes Plus di Mesra terdengar lemah, sementara di Remaco, suara audio keluar semua, terdengar lebih sempurna.

Sama vinyl keluaran Mesra tadi, vinyl-vinyl keluaran mandarin pun mengalami hal yang sama. Mungkin kalian pernah mendapat atau mengoleksi atau setidaknya mendengarkan vinyl-vinyl Beatles, Simon and Garfunkel keluaran mandarin (entah Hongkong, Cina atau yang lain). Secara estetis, penampilannya agak kurang ketimbang rilisan aslinya). Ya, jujur yang buat rilisan ini menang adalah vinyl-nya selalu berwarna (itu satu-satunya alasan kenapa saya mengoleksi beberapa vinyl keluaran mandarin ini). Namun secara kemasan sangat kurang. Tidak ada gatefold, kertas cover yang super tipis, suara yang dihasilkan pun tidak sekeren pressingan label-label lain.

Hasil #jajanrock Poncol td siang, hacep beatles edisi metro xin-wen ?#gilavinyl

A video posted by wahyu nugroho (@wahyuacum) on

Hal yang sama mungkin saya alami ketika saya membeli kompilasi Those Shocking Shaking Days yang fenomenal, at least menurut beberapa orang. Ketika didengarkan pun, suaranya juga, maaf saja, tidak terlalu memuaskan, meskipun kemasannya sangat sophisticated. Saya curiga memang lagu-lagunya tidak bersumber dari master asli si band, melainkan dari vinyl mereka saja. Itu mengapa sampai sekarang saya masih mencari rilisan vinyl asli dari lagu-lagu yang ada dalam kompilasi ini untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

image (42) image (43)

Namun, terlepas dari baik dan buruk paparan audio, kemasan dan lain-lain, mengoleksi vinyl bukan melulu tentang kualitas audio. Menurut saya, pengoleksian vinyl adalah tentang menghubungkan kita dengan musik dari berbagai masa dan berbagai negara, jenis aliran dan sebagainya. Vinyl menurut saya adalah jendela mencari banyak musik aneh di luar sana. Collecting music is about collecting the dots of history. Adanya rilisan yang jelek dan bagus menurut kita justru berguna untuk mencari tahu sejarah apa yang ada di balik itu semua. Untuk kemudian ini kita jadikan bahan untuk ditanyakan ke ahli yang lebih berpengalaman, bisa jadi pengamat musik, penggila-vinyl yang akut, atau orang label, bahkan si artisnya sendiri. Di situ sih enaknya mengumpulkan vinyl.

Previous articleSekali Lagi Tentang Jajanrock
Next articleVinyl or Not Vinyl

Wahyu Nugroho. Akrab disapa dengan nama Acum. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan menjadi kontributor beberapa media seperti MaximumRocknRoll, Matabaca, Outmagz dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Selagi kuliah, waktu luang ia habiskan bersama bangkutaman, band yang akhirnya ‘mengutuknya’ sampai membuat dua album. Mengoleksi vinyl sejak 2007 dan telah hunting vinyl ke beberapa daerah dan kini berusaha mencatatkan pengalamannya dalam website ini.