Vinyl or Not Vinyl

Vinyl or Not Vinyl

883
0
SHARE

Teman saya baru menyesal karena vinyl sekarang makin mahal karena dolar yang naik. 

Kenapa nggak dari dulu ya gue ngumpulin (vinyl)?

“Oi nggak cuma lo doang kali, gue juga”, ungkap gue dalam hati.

Saya iri mendengar teman saya yang pernah meracuni saya, yang kerap mendongengkan indahnya berburu vinyl di jaman dulu. Ketika semua vinyl bagus bisa didapat dengan 7000 atau 15 ribu perak di jalan Surabaya. Ketika order vinyl di ebay masih murah karena dolar masih belum mencekik seperti sekarang.

Saya dan beberapa teman yang giat mengoleksi vinyl sejak 2005 mungkin masih dalam kisaran yang beruntung. Well, karena kita-kita masih bisa mengorder vinyl-vinyl kesukaan kita dalam kisaran harga yang masih masuk akal. Jika tengah bulan, masih ada vinyl dengan harga 30-50 ribu yang bisa kita ‘angkat’ di jalan Surabaya.

Vinyl or Not Vinyl.
Apakah terlalu telat buat mengoleksi vinyl hari ini? Well, nggak ada batasan sih, harus mulai kapan. Ada banyak faktor buat jadi pertimbangannya. Pertama: vinyl apa yang mau dikoleksi, dan kedua: dimana belinya. Kita mulai dari yang pertama aja deh. Jika hari ini kalian mau ngoleksi vinyl 90’s seperti britpop (you know, Blur, Oasis, dll) misalnya: so, maka terlalu telat (untuk yang original) karena harganya udah pasti tinggi (reissuenya aja bisa 500 ribu perak). Lalu vinyl Indonesia. Belakangan vinyl Indonesia mahal. Jujur gue sendiri nggak tahu kenapa bisa jadi begini. Aneh sih, kenapa tiba-tiba Koes Plus atau Panbers, atau grup macam Ge & Ge atau Murry bisa jadi melambung tinggi. Bisa jadi alasan yang logis adalah karena jumlah copies yang sedikit, atau ini rilisan original (dan nggak ada reissuenya) so, alasan untuk naik kuat.

“Bisa sih, vinyl Indonesia murah lagi,” kata seorang teman. “Tinggal direissue aja sama label luar, tunggu reaksinya, pasti yang originalnya bakal turun, ya karena yang reissue lebih bagus, “ucapnya. Saya pun berpikir, iya juga ya. ngapain juga beli vinyl original dengan kondisi yang nggak bagus dengan harga yang amat tinggi (kecuali murah, saya mau) ketika ada versi reissue dengan harga yang terjangkau dan kemasan yang mulus.

Meski demikian, selalu aja ada celah dimana saya bisa menemukan vinyl-vinyl Indonesia yang murah di hari ini tapi punya lagu yang bahaya, ya paling nggak 1-2 lagu. Caranya? Perbanyak selera musik, instead of berharap akan album-abum emas macam God Bless, Koes Plus, AKA dan saudara-saudaranya.

foto acum 270
dilema: vinyl tak terbatas vs kocek yang terbatas

Poin kedua, dimana belinya. Kalau dulu, ketika saya memulai mengoleksi. Jajanrock di jalan surabaya (dulu belum ada blok M square) atau taman Puring, bisa beruntung bisa mendapatkan vinyl dengan harga terjangkau. Demikian juga dengan online. Membeli di eBay, dengan 300 ribu, saya bisa mendapatkan album keren semacam kompilasi C-86 sampai Fleet Foxes atau kompilasi Sarah Records, misalnya. Tahun kemadin atau hari ini – apalagi dengan dolar yang mencekik – akan sangat mustahil!

So, pertanyannya kemudian: Apakah vinyl adalah hobi yang mahal?
Saat, saya bilang sih iya. Ini adalah hobi yang mahal. Sama seperti ada beberapa teman mengoleksi kaus band (yang juga mahal harganya) atau action figures (apa mereka murah) atau alat musik (ini apalagi!). Ya, yang pasti harus ada budget yang dikeluarkan.

Seorang senior – penggilavinyl yang juga saya hormati – pernah berkata ketika ditanya soal tips. “Ya, elu musti punya duit banyak buat hobi yang beginian, karena hobi ini ga murah. Kecuali gaji kalian sangat besar, maka kalian bisa dengan mudah menjalankan dua hobi sekaligus: ngumpulin vinyl juga kaus band. Kalau saya sih nggak bisa. Vinyl aja masih mpot-mpotan!

So, bagaimana dengan kalian? Vinyl or Not Vinyl?