Surga kecil Vinyl di pulau Dewata

6
235

Adakah vinyl di Bali? Pertanyaan yang bagus.

Bali memang selalu mengundang perhatian semua orang untuk datang. Ini tidak lain karena eksotika alam, budayanya, dan lainnya.

Kalo dari musik, dari beberapa kali trip gue kesana, gue simpulin Bali terkenal karena hawa tropical-nya, live music reggae, sampai DJ. Dari semua itu kunci musik untuk Bali adalah havina’ a great time.

Itu juga yang gue rasain selama 2 minggu trip gue kesini. Tontonan musik akustik di bar-bar kecil, menjadi pemandangan seru di Kuta dan Sanur. Sementara jauh di ubud, daerah dataran tinggi di Bali, suasananya lebih beragam: Yoga, cafe hippy, poetry reading, Pura, tradisional musik, dll. Lebih Kompleks.

Lalu adalah sedikit ruang untuk, katakanlah, intensitas yang berlebih di luar itu? Well, seperti vinyl misalnya? Well, dari beberapa kali trip ke Bali dari tahun 2007, saya masih skeptis apakah gue bisa nemuin vinyl di Bali. #jajanrock? Vinyl Shop di Bali? Therea’s no way i cana’t event imagine.

Namun siapa sangka, yang tadinya hanya trip liburan biasa untuk melepas penat akhir tahun, eh tahu-tahu ruang-ruang itu terbuka. Meski tidak terlalu intens seperti Jakarta atau Bandung, namun lobang-lobanga’ vinyl di Bali lumayan untuk ditelusuri.

Menikmati reggae di Oberoi

Soal musik, reggae emang dominan di daerah pesisir Kuta, dan Sanur, apalagi yang mayoritas dipenuhi oleh para surfer dan penggila pantai yang doyan banget sama reggae. Nah, suatu kali gue lagi jalan menyusuri jl. Oberoi, salah satu jalan di Seminyak yang punya daya tarik tersendiri. Menghabiskan siang di sana sambil makan siang, gue menyusuri jalan sampai akhirnya gue sampai di sebuah toko namanya Drifters Shop.

Sekilas toko ini mix-match antara coffee shop, toko buku, dan surf shop. Sebelumnya gue tahu ini dari dodix, manajernya Superman Is Dead. Doi juga #gilavinyl juga anaknya. Lantas gue masuk, trus gue tanya apakah disini jual vinyl, well, sang shop keeper menunjuk dua kotak (crate) kecil di pojok dekat rak buku. Disana lah gue liat beberapa vinyl reggae dengan pilihan katalog yang menarik.

“Yang punya memang demen banget reggae, doi ya pilihan vinylnya reggae, selain itu nggak ada,” ujar sang shop keeper.

Kisaran harga dari 150 -300 ribu untuk vinyl reggae yang blm pernah saya lihat sebelumnya, lumayan lah buat beli 2 vinyl pilihan.

Surga rongsokan di Kerobokan

Gue dan Jeffry, sahabat gue yang tinggal di Ubud, suatu kali kita lagi keliling-keliling naik mobilnya untuk melihat proyek rumah joglo yang dikerjakan Jeffry, kami menyusuri daerah Kerobokan, salah satu daerah di dekat Denpasar. Nah, disitu mobil kita mampir di sebuah gudang tua yang isinya menjual koper-koper bekas. For the record, gudang tua adalah tempat mencurigakan untuk #gilavinyl karena di sana lah kemungkinan besar kita bisa menemukan vinyl – vinyl tua.

Dan benar saja, menilik lebih dalam ke gudang yang luar biasa besar itu, gue melihat beberapa tumpukan vinyl di sana. Beberapa Indonesia dan sebagian besar barat.

bali5

Bermodal portable cantik Fisher Price yang gue beli LaidBack Blues Store, gue menyetel beberapa buah vinyl, sampai akhirnya gue berhasil membawa pulang 3 vinyl manis: sebuah kompilasi dari Decca Records, Wanda Jackson dan vinyl-vinyl Indonesia. Harganya beragam, dari 50 – 100 ribuan. Lumayan!

Auman Rock Klasik Di Bali Gong

Awalnya dari Alvin, sobat vinyl gue di kantor, saat gue masih di Trax. Well, enaknya kerja wartawan musik, lo bisa terbang gratis kemana pun buat ngeliput acara musik. Suatu hari, Alvin pulang dari Bali untuk meliput acara, entah acara Rip Curl atau Soundrenalin, acara festival musik terbesar di Indonesia, yang gue inget siang itu adalah dia menyerahkan satu brosur tentang toko vinyl di Bali. Ini cum, lo harus kesini kalo ke Bali, ini toko vinylnya, keren-keren, kata Alvin.

Dengan gegap gempita, gue fotokopi flyer itu dan gue tempel di buku saku gue, yang selalu gue bawa kemana-mana.

Entah mengapa, karena setelah itu gue jarang dapat kesempatan ke Bali, so gue harus ganti buku saku gue karena banyaknya catatan, dan salahnya, gue ga memindahkan fotokopi dari brosur itu. So, ita’s compelitely gone! Dan selama sekian tahun gue ga pernah membicarakan tentang itu.

Tidak sampai suatu kali di penghujung tahun 2013, ketika gue dan istri merencanakan liburan ke Bali, tiba-tiba gue menanyakan kembali ke Alvin. Dimana toko tempat jual vinyl di Bali Vin?. Alvin pun menjawabnya, Bali Gong cum, tapi gue ga tahu alamat pastinya.

bali2

Dan keingintahuan itu yang akhirnya menuntun gue ke toko kecil di Legian yang bernama Bali Gong. Dari penampakan dari depan, sedikit tersamar, mengingat di satu ruas jalan dimana toko itu ada, ada banyak toko yang menjual penah pernik, bookshop, T shirt, dan lainnya. Tapi ketika saya melihat cover King Crimson dan gambar pisang dari Velvet Underground, gue langsung menduga ini pasti tokonya.

Tanpa ba-bi-bu, saya langsung berbicara dengan sang owner. Pak Dede, begitu namanya. Nggak terdengar seperti orang Bali. Dan benar saja, ketika kami berbincang, logat sundanya keluar. Kami membicarakan tentang vinyl, Dipati Ukur, Jalan Surabaya, dll. Semua pun cair. Dan turns out Pak Dede punya cerita yang unik.

Pak Dede adalah satu pemiliki perusahaan yang memproduksi kaset bootleg lokal yang bersumber dari vinyl koleksinya bernama Apple Records (Not that Apple records-nya Beatles) dari tahun 73-78. Rekaman-rekaman progresif rock yang underated dari The Nice sampai post punk XTC diproduksinya. Selain itu, koleksi vinylnya juga dipinjamkan ke beberapa label bootleg di Bandung, yang sudah populer, dari mulai Monalisa sampai Yess, dengan merk Yess. Yap, kaset Yess, yang memproduksi banyak album-album rock progresif, sangat terkenal. Gue sempet liat koleksi kaset Yess di beberapa kios di Jakarta, dari album Rick Wakeman, Pink Floyd, dll etc.

bali4

Tahun 1985, Pak Dede Hijrah ke pulau Dewata dan baru dua tahun kemudian di tahun 87, ia membuat Bali Gong sebagai buah kecintaannya akan musik. Dan disini lah gue berada. Dan pemandangannya lumayan indah dari depan. Ada puluhan vinyl yang dipajang di belakang meja kasir, dari Thick As Brick-nya Jethro Tull,Sticky Fingers-nya The Rolling Stones, dll termasuk King Crimson dan Velvet Underground & Nico.

Beberapa koleksi termasuk sangat collectible, karena menyertakan tanda tangan asli dari artistnya, seperti Eric Burdon (vokalis The Animals) dan dan personil ELP. Wow!

Gue pun diajak berkeliling dan larut dalam cerita-cerita Pak Dede dan his musical journey. Tak sadar selama satu jam, gue bak masuk ke mesin waktu. Indah!

Sementara itu mata saya sesekali melirik di rak kaca yang terletak di sudut ruangan, melihat boxset a’boxset cantik dari The Beatles, Beach Boys sampai The Byrds yang indah menggoda. Mewah!

Namun mata saya tak henti-hentinya menatap album yang menurut gue harus dibeli malam itu sebagai buah perjalanan saya ke Bali, Yes! Sebuah album milik Sixto Rodriguez, Coming From Reality. Yang penasaran seperti apa Rodriguez? Nih cek di sini.

Tawar menawar harga, akhirnya kami sepakat untuk memakai barter, yap teknik berdagang jaman dulu yang sampai sekarang masih tetap berlaku, well, tentunya di dunia koleksi mengoleksi vinyl. Ciamik!

Dan dua jam pun berlalu. Tak terasa. Hanya perut yang mulai berbunyi lah yang menjadi alarm untuk mengakhiri pembicaraan dan kunjungan gue di Bali Gong. Tanda waktu makan malam tiba.

It was a great night.

Untuk sementara ini baru 3 tempat buat #jajanrock di Bali. Tapi gue yakin banget masih ada lobang-lobang yang belum gue kunjungin. Ya, tunggulah sampai kunjungan Bali selanjutnya. But the point is, kalau lo sabar dan mencari serta percaya akan intuisi,lo bisa menemukannya,

Buat para pengg- #gilavinyl yang ke ada di Bali, selamat #jajanrock

6 COMMENTS

  1. Bro tolong minta info yg gudang rongsokan di krobokan alamatnya dimana, siapa tau suatu saat bisa nyasar kesana, thanksl before.

  2. penelusuran jejak sejarah seputar musik indo yg wokeyy …!
    sedikit koreksi Yess tdk pernah merekam album Rolling Stone & Beatles, serta album Thick As Brick itu punya Jethrotull.
    di tetangga sebelah, kalangan penggila kaset Progresive Pak Dede adalah salah satu ‘Oknum yg harus bertanggungjawab’ atas dampak munculnya ketergantungan thdp musik Prog.spt pernah diulas di Intermezzo majalah Tempo.
    https://www.facebook.com/photo.php?fbid=612378912171223&set=a.112422415500211.18194.100001973596458&type=1&theater

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here