Sepuluh Plat Bidikan

Sepuluh Plat Bidikan

1005
0
SHARE

Seperti apa jika kalian ditanya tentang apa 10 vinyl yang ingin banget kalian punyai; 10 vinyl daftar incaran.

Pas banget, kali ini saya mengundang jurnalis musik juga musisi dari band Crayola Eyes, Reno Nismara, untuk memberikan 10 piringan hitam yang menjadi incarannya sampai hari ini. Simak baik-baik daftarnya.

Patut diketahui bahwa daftar ini diurutkan secara acak.

Apryl Fool

Apryl Fool – Apryl Fool [1969]
Sebelum memperkuat Happy End dan kemudian menjadi sepertiga Yellow Magic Orchestra, jenius musik asal Jepang Haruomi Hosono lebih dulu tercatat sebagai personel Apryl Fool. Band ini memang hanya sempat merilis satu album penuh, namun cara mereka meleburkan blues dengan psikedelia—juga kesuksesan personel lewat proyek berikutnya; drummer Takashi Matsumoto, seperti Hosono, juga bergabung dengan Happy End, vokalis Tadaki Kosaka terlibat dalam penggarapan musikal Hair versi Jepang, sementara kibordis Hiroyoshi Yanagida sempat merilis dua album solo—sukses menjadikan album ini berstatus penting dan diincar para kolektor. Tentu saja, harganya tidak murah. Saya ingat bahwa Toko Musik Garasi (Medan, RIP) pernah menjualnya dengan harga sekitar Rp 1 juta.

Dennis Wilson

Dennis Wilson – Pacific Ocean Blue [1977]
Album yang sangat underrated. Menilai Pacific Ocean Blue sebagai album yang buruk adalah tindak kriminal. Jika tidak merinding mendengar aransemen “River Song” yang megah, lengkap dengan koor pembangkit semangat, maka Anda sudah mati rasa. Seperti laut Califonia Selatan yang menjadi tempat asal dan juga subyek lagunya, materi-materi ciptaan Dennis Wilson pada album ini begitu dalam secara emosi dan membentang luas untuk keragamannya. Terasa bahwa Dennis ingin melepaskan diri dari masa lalu bersama The Beach Boys dan juga bayang-bayang saudaranya (baca: Brian Wilson), sehingga ia meregangkan visi bermusiknya sejauh mungkin sampai menghasilkan sesuatu yang luar biasa sekaligus di luar kebiasaan.

Jacques_Dutronc_1966_album_sleeve

Jacques Dutronc – Et Moi Et Moi Et Moi [1966]
Yé-yé music’s finest half hour. Di sepanjang album, Jacques Dutronc tak pernah kehilangan kharismanya; baik ketika ia menyanyikan “L’Operation” yang Dylanesque maupun saat berteriak-teriak pada nomor afro “La Compapade”. Namun nomor terbaik ada di penghujung album, tepatnya “Mini, Mini, Mini”. Coba simak video musiknya yang menggemaskan, ditambah kehadiran Françoise Hardy selaku istri legalnya sampai sekarang meski sudah tidak tinggal seatap. Lirik-liriknya yang cerdas (walau saya harus meminta bantuan situs alih bahasa terlebih dahulu guna memahaminya)kemudian membuat Dutronc dianggap sebagai bandingan Ray Davies dari The Kinks.

Randy California

Randy California – Kapt. Kopter and the (Fabulous) Twirly Birds [1972]
Terima kasih kepada sampul album perdana Wildest Dreams yang merupakan proyek musik psikedelia pimpinan DJ Harvey, saya jadi mengetahui keberadaan album ini. Desainnya jelas-jelas menginspirasi, jika bukan ditiru, DJ Harvey dkk. Namun ini bukan pertama kalinya Randy California menjadi bahan contekan. Dikenal lebih dulu sebagai salah satu pendiri Spirit, permainan gitarnya pada lagu “Taurus” didaur ulang menjadi intro “Stairway to Heaven” oleh Jimmy Page. Sebagai album pertama selepas keluar dari band yang didirikannya tersebut, Kapt. Kopter and the (Fabulous) Twirly Birds terdengar dikerjakan dengan sukaria di bawah terik matahari pesisir barat Amerika Serikat. Materi-materinya luwes, lengkap dengan beberapa lagu artis lain yang digubah ulang sesuka hati: “I Don’t Want Nobody” dari James Brown”, “Mother and Child Reunion” ciptaan Paul Simon, “Walkin’ the Dog”-nya Rufus Thomas, dan “Day Tripper” serta “Rain” milik The Beatles.

The Tyde

The Tyde – Once [2001]
Dengan segala ingar bingar tentang garage rock revival pada awal dekade 2000-an, kehadiran The Tyde asal California, AS yang mengusung cosmic Americana adalah kontradiksi menyenangkan. Harus diakui bahwa saya sedikit terlambat mengetahui keberadaan mereka karena terlebih dulu sibuk mendengar album-album The Hives, The Strokes, dan The Libertines. The Tyde—tiga personelnya juga merupakan personel Beachwood Sparks—memilah pengaruh-pengaruh mereka dengan baik sekaligus unik: Gram Parson (tentu saja), Neil Young (jelas), The Beach Boys (suasana lagu yang terbasuh terik matahari), The Byrds (jingle-jangle guitar), dan Felt (ini mengejutkan; memainkan Americana tetapi dengan sisipan post-punk Inggris? Coba dengar “Get Around Too” sebagai contoh). Mungkin hanya anak-anak The Tyde yang memprediksi bahwa kombinasi tersebut bisa berhasil.

Brinsley

Brinsley Schwarz – Silver Pistol [1972]
Di antara proto-punk dan punk, ada rentang ruang yang diisi oleh para pub rockers. Dan dari semua pemain pub rock, Brinsley Schwarz adalah salah satu yang terbaik—meski tidak mencapai popularitas global sebesar Elvis Costello dan The Stranglers. Silver Pistol adalah album terbaik mereka; hangat didengar berkat harmoni-harmoni yang rendah hati, pas bila dijadikan rekan minum bir.

Yura Yura

Yura Yura Teikoku – Hollow Me [2007]
Bagi saya, album terakhir Yura Yura Teikoku ini juga merupakan persembahan terbaik mereka. Setelah menciptakan nomor-nomor penuh energi di sepanjang karier, Shintaro Sakamoto cs. berkeputusan merilis sekumpulan aransemen yang lebih tenang dan cenderung konstan. Tiada fluktuasi yang tak diperlukan, menciptakan ruang untuk imajinasi dan emosi.

Bunjamin

Benyamin S. – Apollo [around 70]
Saya pertama kali mengenal album ini berkat perjumpaan dengan desain sampulnya. Bohlam berisi Benyamin S., lalu di atasnya terdapat tulisan ‘APOLLO’ dengan warna jingga gelap yang dilumuri efek melesat. Menangkap mata tanpa perlu repot-repot berusaha. Muatannya pun memiliki magnet tersendiri, seperti “Si Ateng” yang menyimpan bunyi fuzz garang dan nyanyian bersuara chipmunk; menjadi bukti kejenakaan Benyamin S. sekaligus keberaniannya dalam bereksperimen demi menghasilkan karya-karya tak terlupakan.

spacemen3-recurring-lprecord-81212

Spacemen 3 – Recurring [1990]
Album ini merupakan penanda pecahnya Spacemen 3 menjadi dua; bisa dilihat dari masing-masing sisi Recurring yang memiliki gaya musik berbeda. Sisi pertama album diisi oleh komposisi-komposisi ciptaan Peter Kember, sementara sisi kedua memuat lagu-lagu yang ditulis Jason Pierce. Sisi pertama menampilkan kecenderungan pop dan ambient yang kemudian bisa didengar pada proyek musik bernama Spectrum, sementara sisi kedua menawarkan peleburan gospel dan blues yang lalu dijadikan formula andalan Spiritualized. Sebagai suatu kesatuan, Recurring milik Spacemen 3 adalah warna-warni sonik yang melompat dari zamannya. Revolusioner.

Ariesta Birawa Group – Vol. 1 [1973]
Album ini sangat langka dan begitu dicari, sampai menjadi klise untuk mencantumkannya dalam daftar plat incaran. Tapi desain sampul modis beserta konten lagu seperti “Si Ompong” yang melontarkan liukan gitar ala Santana pada masa jayanya hingga “Di Dunia yang Lain” yang meresap sampai alam bawah sadar, menjadikan album ini layak untuk dibidik sampai kena (asalkan tidak terlalu mahal).