Sekali Lagi Tentang Jajanrock

Sekali Lagi Tentang Jajanrock

Sekali Lagi Tentang Jajanrock

747
0
SHARE

Sebuah cerita seru di kalangan penggemar piringan hitam.

Bagi penggemar vinyl, istilah jajanrock mungkin familiar. Bagi yang belum tahu, jajanrock adalah aktivitas mencari vinyl atau piringan hitam. Aktivitas ini bisa berbentuk fisik dengan cara belanja di kios atau toko vinyl favorit (record store) atau berburu/hunting di tempat-tempat yang nggak pernah kalian duga sebelumnya.

Saya menjalani kedua-duanya. Kalau ada rejeki lebih, terutama habis gajian saya selalu mampir ke beberapa toko/kios favorit saya seperti pasar Santa, Monka Magic, atau jalan Surabaya demi melihat koleksi vinyl yang ada. Atau jika tengah bulan tiba, dan masih ada spot di kantong untuk satu atau dua vinyl, biasanya saya memilih hunting ke tempat-tempat ‘ajaib’ untuk mendapatkan vinyl dengan harga murah, ya pastinya lebih murah di kios atau di toko vinyl.

Seperti Sabtu kemarin tanggal 4 September ketika saya pergi ke daerah Poncol, di samping stasiun Senen, Jakarta. Saya sudah beberapa kali datang ke sini. Dan jika dibayangkan, daerah ini sama sekali nggak cocok buat kita menemukan vinyl. Bayangkan saja pasar dengan onderdil motor, toko kayu, baju bekas, sepatu, gitar bikinan. Belum lagi kondisi pasar yang sesak, banyak copet, nggak ada tempat yang enak untuk kita menemukan vinyl. Namun nggak sampai di satu gang kecil di dekat kali yang lumayan beraroma pesing, di situ lah saya menemukan satu kios nyempil yang menjual vinyl.

vinyl
tak terurus: tumpukan vinyl di dalam rak

berbekal tisu basah, serta masker, sang ibu menunjukan laci tempat menyimpan vinyl 7 inch koleksinya yang sudah berdebu. “Nih rata-rata mandarin dan yang ini nggak ada covernya, gocengan (Rp 5000-an) lah,” ujar sang Ibu.

Mendengar nominal yang ditawarkan untuk satu kepingnya, saya jadi tertantang untuk mencoba mengotorkan jari-jari saya untuk memasuki alam penuh debu di dalam rak tersebut. Harga selalu jadi alasan utama. Untuk satu 7 inch antah berantah yang berdebu, harga 5000 masih masuk diakal lah, apalagi 1000 rupiah, wah udah pasti tutup mata (meski masih bisa ngintip juga judul lagunya). Kalau udah 10 ribu sebenernya ragu-ragu, 20 ribu kebangetan banget (mending beli roti boy).

 

Setelah mengalami beberapa kali bersin dan istirahat sejenak kekelahan karena begitu banyaknya vinyl (sekitar 150-200an 7 inch) yang ada di sana, saya akhirnya berhasil menyortir puluhan vinyl untuk saya bawa pulang. Beberapa mandarin, sedikit soul motown, sedikit pop alternatif, dll.

image (36)
krezy: 12 inch vinyl yang ditumpuk

Sedikit menyesal karena saya tidak membawa portable player saya untuk dicoba. Padahal di momen-momen seperti ini, barang yang satu ini penting adanya. So, jadinya beberapa vinyl yang saya pilih cenderung hanya sekadar “feeling” belaka, serta penampakan” anatomis dari kemulusan vinyl, nama grup, tahun rilis vinyl serta record labelnya.

Jajanrock adalah aktivitas yang selalu, akan selalu menyenangkan. KIta nggak pernah tahu apa yang kita bakal temukan. Seperti ketika saya ke Monka Magic, sebuah toko vinyl di Kemang, di bulan Desember, saya menemukan sebuah vinyl The Five Americans dan beberapa vinyl bagus lainnya yang masih disegel yang berada di kotak diskon seharga 150 ribu. Well, ini juga sesuatu mengagetkan!

Well, saya udah nyeritain tentang jajanrock saya, gimana dengan jajanrock kalian?

Previous articleSiaran Kedua #gilavinyl di Rururadio
Next articleVinyl = Rilisan Yang Sempurna? Eits, Nanti Dulu

Wahyu Nugroho. Akrab disapa dengan nama Acum. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan menjadi kontributor beberapa media seperti MaximumRocknRoll, Matabaca, Outmagz dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Selagi kuliah, waktu luang ia habiskan bersama bangkutaman, band yang akhirnya ‘mengutuknya’ sampai membuat dua album. Mengoleksi vinyl sejak 2007 dan telah hunting vinyl ke beberapa daerah dan kini berusaha mencatatkan pengalamannya dalam website ini.