Nikmatnya Legalisir Vinyl

1
222

Ketika album vinyl yang kalian punya dilegalisir oleh empunya album, luar biasa!
Ini cerita tentang aji mumpung. Ceritanya tentang diskusi yang bergizi, dan berbuntut kepada kejutan yang luar biasa.

Minggu 15 Desember, gue datang ke acara diskusi album Badai Pasti Berlalu dan Guruh Gipsy di sebuah caf di daerah Gandaria.Hadir disana pelaku sejarah, yaitu para musisi Yockie Suryoprayogo, Eros Djarot, dan Roni Harahap. Yockie dan Roni membuat album untuk Guruh Gipsy, sedang Eros dan Yockie turut andil dalam album soundtrack Badai Pasti Berlalu. Dua album ini, konon, dianggap kritikus musik di era mid-penghujng-70an sebagai album yang memutarbalik wajah musik Indonesia ke arah yang lebih progresif.

Muncul sebagai kemuakan dari lagu-lagu 3 kunci, the so-called lagu kacang goreng mendayu-dayu yang dibawa oleh Koes Plus dan segenap ekses-ekses yang ada sesudahnya, digantikan oleh sebuah kejutan ekspresi yang ultra-spektakuler, di luar dugaan.

Latar belakang tentang cerita album ini bisa dibaca selengkapnya di blog Denny Sakrie.

Dua jam lebih diskusi,banyak yg bisa gue pelajari. Ada cerita tentang masa lalu yang menyenangkan, ada wacana menarik soal bagaimana menjadi musisi dan seniman, dan lain sebagainya. Gue terpuaskan!

Namun bagi gue, yang lebih bikin berkesan dari diskusi bersama tokoh/musisi legendaris sebenarnya hal sederhana saja. Tanda tangan. Yap, thata’s it! Sore itu gue bawa album Badai Pasti Berlalu, album Resesi dan sebuah piringan hitam Yockie, Musik Saya Adalah Saya. Gue dapat album ini beberapa tahun lalu di sebuah rumah kecil dan tenang di kawasan Citayam yang asri.

Sebuah album yang membangunkan rasa penasaran gue akan sosok Yockie S. sebagai musisi yang mumpuni juga dedikatif. Sosok yang kalem membuat gue segan kepadanya. Dan ketika ngobrol, pas yang keluar adalah kata-kata bijak dan tuntunan, meski subyektif, ya lumayan untuk input positif.

Oleh-oleh legalisir vinyl pun gue dapatkan dengan mudah dan sempurna, sesuai rencana. Asra, fotografer handal mengabadikan momen itu dengan baik. Trimakasih Asra!

41211_426832617249_280769_n 538916_10150718211822250_1937022161_n

Legalisir vinyl adalah ritual seru yang gue lakukan, meskipun jarang.

Terakhir adalah waktu band inggris, The Stone Roses menyambangi Jakarta. Saat itu gue harus menunggu dari pagi sampai sore hari hanya untuk berfoto, ngobrol dan melegasisir vinyl Stone Roses.

Sebelumnya sang vokalis Ian Brown pernah melegalisir vinyl Sally Cinnamon gue pada sebuah sesi wawancara yang intim di Bali. Terimakasih buat Alvin, rekan kerja gue di semasa di Trax Magazine atas pengalaman yang indah itu. Alvin juga dapet tandatangan vinyl Stone Roses.

Kemudian ada Shed Seven, band asal Inggris yang pernah membubuhkan tandatangannya pada beberapa single Shed Seven sesaat di backstage setelah mereka selesai show di Bandung.

Sementara musisi Indonesia yang pernah melegalisir vinyl saya adalah Beni Panbers untuk album Panbers, pada sebuah sesi diskusi di Cafe Au Lait di Cikini. Pengalaman tak terlupakan.

Kemudian ada band indiepop Ca’mon Lennon, yang terkenal di awal milenium dengan lagunya “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A. yang membubuhkan tandatangannya pada sebuah launching reissue album mereka di Borneo Beerhouse. Saat itu hanya Hans, Uga dan Bin, ketiga personil tersisa yang datang saat itu yang melegalisir vinyl gue. Sisanya, Angga, Akwin dan Sulung gagal hadir.

Apa sih kepuasan yang dicari dari melegalisir vinyl? Memang nggak ada yang salah dengan CD atau kaset, buku, poster dan lainnya untuk melegalisir, namun ketika menyangkut vinyl dengan bidang besar, rasanya pasti akan beda. Dibutuhkan spidol tebal untuk menggurat cover atau bidang apapun dalam vinyl untuk mendapatkan tandamata dari musisi idola.

Dari sini, sepertinya aktiitas legalisir akan gue sering lakukan. Karena gue rasa masih ada beberapa daftar vinyl yang butuh dilegalisir oleh beberapa musisi favorit gue, diantaranya:

  1. Margie Segers a’ untuk vinyl Abstract Club Band
  2. Deddy Dores a’ untuk album Freedom of Rhapsodia
  3. Yon, Yok, Murry – untuk album Koes Plus vol. 2 yang magis
  4. Mawi Purba a’ untuk album Rhythm Kings vol.1 yang brilian
  5. Remy Sylado – untuk album Orexas yang berbahaya

Sedangkan untuk musisi luar negeri, daftarnya tentu akan panjang, namun kalau boleh dibuat top 5, daftarnya adalah sbb

  1. Donovan a’ untuk setiap album Donovan
  2. Fleet Foxes a’ untuk album s/t dan Helplesness Blues yang menganggumkan
  3. Suart Murdoch a’ untuk tiap album Belle and Sebastian yang gue punya (sayang waktu kemarin kesini saya nggak sempat terpikirkan itu)
  4. Bob Dylan a’ untuk album Blonde on Blonde (Sebenarnya waktu konsernya di Singapura sempat gue bawa, sayang, tak ada satu pun kesempatan untuk bisa bertemu dengan Dylan)
  5. Morrissey, Johnny Marr, Andy Rourke dan Mike Joyce untuk setiap album Morrissey dan The Smiths (Terutama Vauxhall and I dan Queen is Dead (Kapan ya mereka reunian? 🙂

Mari berharap datang momen itu.

foto oleh Muhammad Asranur, cek website-nya yang caem di sini

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here