Keluh Kesah Vinyl Indonesia

    0
    91
    The Steps, grup instrumental Indonesia yang biasa aja, cuma enak digoyangin.

    Untuk sementara ini, saya sedang berhenti membeli vinyl-vinyl Indonesia. Selain karena harganya yang makin melambung dan tak beralasan (sok-sokan mahal), selain itu saya juga sadar bahwa tak semua album Indonesia itu keren (tapi ini subyektif loh).

    Dulu saya boleh dibilang rajin memburu vinyl-vinyl Indonesia. Jemari saya selalu hitam untuk sekadar memilah-milah plat tanpa cover di Blok M Square yang dulu harganya masih 25 ribu – 30 ribuan. Ingat kisah berburu saya ke Jogja, Solo, Surabaya sampai Malang? Plat-plat indonesia selalu menjadi tentengan yang membebani saya tatkala pulang ke Jakarta.

    Hunting vinyl Indonesia di Jogja / dok. pribadi.

    Namun ternyata problematika vinyl Indonesia sepertinya harus saya ungkapkan di sini, agar siapapun yang berburu vinyl Indonesia tahu untuk apa ia harus membeli, bukan sekadar ikut-ikutan atau untuk dijual lagi (wah kalau ini saya nggak ikutan) atau memang karena ingin tahu saja.

    David Tarigan pernah bercerita tentang vinyl Indonesia ini. Kalau ndak salah ia pernah bilang kalau ‘jarang ada album Indonesia bagus, apalagi di tahun 70-an, cuma segelintir lah. Paling dari 10 track cuma 1 dua lagu yang bagus, sisanya semua pesanan’ Pesanan dalam arti kata bisa jadi pop menye-menye atau Melayu.

    Vinyl De Selmons, yang bagus cuma Kabut Hitam.

    Baru-baru ini saya ditawari vinyl de Selmons, karena saya tergila-gila dengan lagu “Kabut Hitam” saya menyerah dan akhirnya harus merogoh kocek saya. Karena minimnya referensi tentang de selmons, saya pun harus menyerah kepada ekspetasi bahwa album ini pasti lagunya keren-keren. Ternyata ekspetasi saya salah. Satu-satunya track paling keren hanya “Kabut Hitam”, sisanya: Kosong memble alias tak lain hanyalah pop menye-menye saja, ciri khas vinyl pop group 70an.

    Apakah saya menyesal? Tentu tidak, karena meski satu lagu, “Kabut Hitam” tak ada dimana-mana selain di album tersebut. Mungkin saja jika ada album kompilasi, katakanlah, from the vault of de selmons, saya pasti akan beli karena isinya sudah pasti bukan track-track pesanan.

    Ariesta Birawa, gara-gara ada track keroncong, cacat dibilang album keren.

    Lalu pertanyaan kemudian: Adakah kemudian album Indonesia yang keren satu album semua? Jawabannya ada. Panbers Sound 1, Rhythm Kings vol. 1, Badai Pasti Berlalu, Yockie – Musik Saya adalah Saya, Kharisma Alam, Koes Plus volume 1-3, Hard Beat juga Another Song For You, termasuk karya Dara Puspita dan Harry Roesli, dsb, Remy Silado Orexas, Inpres, album-album yang harga original pressingnya bikin nyekek leher.

    Namun album-album yang saya sebutkan itu ya hanya segelintir dari ribuan katalog vinyl musik pop dan rock Indonesia. Perbandingannya tak banyak, hanya 1:10, satu dari album terbaik di tengah album yang jelek atau album hanya satu lagu yang bagus, salah satunya ya de Selmons saya itu tadi.

    Bersama dua vinyl Indonesia: soundtrack lagu untukmu dan adrianne penyanyi cilik

    Jadi, jika saya hari ini melihat seseorang yang beli vinyl Indonesia hari ini, either dia adalah DJ yang mencari lagu-lagu tertentu atau memang ia tipikal pengarsip sejarah atau cuma penimbun atau jika tidak ia mungkin hanyalah orang kaya saja yang hidupnya lurus dan tidak narkoba.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here