Berburu Vinyl di Jogja (revisited)

0
433

Kilas balikkenangan berburu vinyl 3 tahun lalu, sebuah perjalanan 4 hari yang menyenangkan.

Tepat tanggal 30 April – 3 Mei kemarin, awal tahun, tepat sehabis gajian, gue memutuskan untuk pulang kampung ke jogja. Yap, pulang kampung. Meski gue lahir di Jakarta namun Jogja tetap adalah rumah bagi gue. Gue sebut rumah karena memang kota itu nyaman untuk ditinggali dan selalu ‘ngangenin’.

Kunjungan gue ke jogja (setelah 3 tahun lebih), memang pure liburan dan memang niat untuk #jajanrock. Di sela-sela itu gue memang punya plan khusus buat bikin acara karaoke akustik bareng temen-temen komunitas band indiepop di Jogja.

Terakhir gue ke Jogja adalah tahun 2012 saat ada tugas kantor. Di sela-sela ini, gue selalu menyempatkan diri untuk mencari vinyl a.k.a. #jajanrock di tempat-tempat yang belum penah gue kunjungin. Kalian akan mengetahuinya nanti di cerita ini.

keretakeretajogja

30 April. Gue berangkat bareng Sidha, wartawan Traxmagz juga peng-#gilavinyl yang suka dengan vinyl band-band indie rock yang mostly gue ngga ngerti but i’m pretty sure they’re good records, pada jam 7 pagi di stasiun Senen. Tidur di kereta Fajar Utama Yogya sekitar 1 – 2 jam, sisanya kami habiskan dengan bercakap-cakap di kereta makan. Man, gue nggak inget kapan terakhir kali gue ngobrol-ngobrol sama orang di kereta makan. Yang pasti situasi ini nggak terbayarkan sama apapun. Itu kenapa gue suka banget sama lagu “Jalan Pulang” di Bangkutaman, ya karena lahir dari situasi-situasi seperti ini.

Kami berpisah begitu sampai di stasiun Tugu, Yogya. Gue naik ojek sampai ke Kunci Cultural Studies, homestay tempat yang bakal gue tinggal selama di Jogja. Tentang tempat ini, kesan pertama setelah gue liat penampakannya, I thought: this is it, this kinda house is what my future dream home is. Tempat ini punya semuanya: Halaman luas, teras rumah yang asik, rak buku yang tertata rapi, Meja kursi desain klasik. Dan dapurnya. REALLY LOVE THE KITCHEN! Ah, pastinya gue ga akan cerita banyak karena lo harus ke sini. Dan tentunya, kan lebih baik kalo lo adalah orang yang simpel atau backpackers yang juga demen buku dan berdiskusi.

facade-photo-by-Yaya-SungProcessed with VSCOcam with g3 preset

Oiya, sekadar catatan, di kantor Kunci ada kantor YesNoWave. Sebuah net-label pionir di Jogja, dimana Wok The Rock adalah founder-nya. Album kompilasi Bangkutaman “IX” adalah satu dari banyak katalog keren yang dirilis di net label ini.

kunci2kunci

Berbaring sedikit, lalu mandi, gue langsung cabut latihan bareng dua temen indiepop gue, Eka dan Agha – dua-duanya adalah personil band Nervous – buat manggung di acara Indiepop open mic, besutan gue dan Eka. Di acara itu kami mengundang teman-teman membawakan cover song lagu-lagu indiepop favorit mereka. Latihan di Studio Pengerat sampai malam, balik ke Kunci untuk party kecil-kecilan bareng Wok The Rock & Co. Hadir juga temen-temen Mes56. Couple beers dan Pork + dabu-dabu, Jogja yang dingin mendadak hangat. Angki, Wimo, dua seniman Mes 56, serta Agan Harahap, seniman fotografi, kawan di Traxmagz, yang kini pindah ke Jogja, turut hadir. Ah, lagi-lagi momen yang tak tergantikan dan tak terbeli oleh apapun. Baru malam pertama, i already get the best.

Waktu Berburu Piringan Hitam Dimulai

Day 2. Nggak lama setelah sarapan, sesuai dengan rencana, gue langsung cabut ke Krapyak, sebuah kampung kecil di selatan Jogja, masuk menyelusuri gang sempit dan berujung di sebuah rumah yang berhadapan langsung dengan Musholla. Sang pemilik rumah, Pak Djatun, punya banyak vinyl yang ditaruh di atap rumah. Whoa, right on the roof (you can see it here). Gue bener-bener, literally, harus naik tangga untuk bisa mencapai rak vinylnya. So excited!

rumah pak djatunjo

Darimana gue kenal pak Djatun? Aneh sih, awalnya dari iseng nyari tentang orang yang jual vinyl lewat situs pencari Google. Kata kuncinya standard, “jual piringan hitam” disitu muncul tautan di Kaskus tentang orang di Jogja yang punya ribuan vinyl eks bongkaran radio, lokasinya di Jogja, dan ada no. tlp nya. Tanpa sadar, gue langsung telfon, dan akhirnya itu yang membawa gue ke rumah pak Djatun pada suatu hari di tahun 2012. Saking senengnya gue, gue undang David Tarigan serta beberapa temen gue untuk datang mencicipi vinyl pak Djatun.

3 juli 2012 di gang di jogja10247318_10152386831547250_3769700960819734597_n

Tentang beberapa hasil buruan gue di rumah pak Djatun ini salah satunya adalah grup folk bernama Inpres, yang pernah gue bahas di Jakartabeat, sebuah situs tentang musik dan diskusi. Klik di sini kalo kalian ingin baca.

Thanks to my cute orange fisher price yang gue beli dari #LaidBackBluesRecordStore, belajar dari diggin’ sebelumnya yang harus tebak-tebak buah manggis untuk memilah milih vinyl yang pas buat gue, diggin’ kali ini gue punya persiapan lebih untuk dengerin satu per satu vinyl yang ada di rak. Mencoba screening satu per satu, They’re all Indonesian vinyl with no cover, kecuali satu dua The Byrds, Buffalo Springfield & Rory Gallagher, itu juga nyelip.

Like the usual radio cover vinyl, pastinya lo ga bisa mengharapkan dapet cover yang bagus seperti yang sering lo liat di facebook atau di tempat-tempat seperti Blok M Square atau Jalan Surabaya. Mari berharap saja vinylnya mulus, dan yup, pagi itu vinyl-vinyl yang gue diggin’ mulus dan no scracth. Meski ada beberapa yang flek karena nempel dengan plastiknya. Welll, this is not good, jika diputer, pasti akan ada banyak noises.

For the next 3 hours, i found myself in a nice-musically-comfort-zone. Menghabiskan waktu memilih vinyl dari rak, mengelap lempenganya, kemudian memutarnya, adalah pengalaman menarik bagi gue. Screening satu demi satu lagu, sampai ketemu lagu yang membekas, lalu disimpen. Jujur, gue sendiri nggak begitu peduli sama siapa penyanyi atau band-nya. Karena situasi ini menuntut lo untuk mengesampingkan harapan akan mendapat album Duo Kribo atau Dara Puspita kinda stuff, dan mulai membebaskan selera musik lo.

Justru dengan membebaskan selera musik gue secara luas, gue bisa mendapatkan banyak lagu-lagu enak yang belum pernah gue denger sebelumnya. Dari jazz, psych folk, sampai jazz, bahkan dangdut, gue tercerahkan dari #jajanrock pagi itu. Dan siang itu, gue membeli vinyl-vinyl dangdut dan orkes melayu pertama gue.

Pak Djatun ngebawain gue bekal kue manis dan teh hangat, “Ini mas, buat ganjal perut,” kata belau . Geez, what a kind man, gue seka tangan gue pake hand sanitiser dan tisu basah, lagu gue santap beberapa kue manis dan nyeruput teh hangat. Ah, melegakan.

jogja110171671_10152386836362250_2627137970988889591_n

Selama 3 jam, gue berhasil menyeleksi setidaknya 30 vinyl pilihan gue. Just right in time, Agha temen gue sudah berada di sepeda motornya, siap mengantar gue makan siang di dekat kantornya di HONF. Setelah menyelesaikan transaksi tawar menawar dengan sangat bersahabat, gue langsung pamitan dengan pak Djatun.

Malam hari, gue melupakan sejenak pengalaman #jajanrock tadi siang dan asyik bersama temen-temen gue, Eka, guys from Answer Sheet, Lampu Kota, dll di sebuah Juice Bar bernama k.e.r.s dimana acara acoustic open mic berlangsung. I was thrilled by this scene dan happiness yang ada dalam wajah-wajah temen-temen. Kinda bring back, like 15 years ago, when this indiepop scene’s 1st emerged.

jogja4

Di sela-sela gig malam itu, gue nggak sengaja ketemu seorang teman bernama Menus dari Relamati Records, scenester hardcore punk di Jogja yang cukup populer. Di sela-sela dirinya yang sedang ngelapak dagangannya, Menus memberikan informasi berharga soal lokasi vinyl baru yang lumayan. “Kita berangkat besok pagi, “ungkapnya. Hmm, gue kirain #jajanrock gue hanya terhenti tadi pagi. Oke lah.

Day 3. The next morning, gue dan Menus sudah berada di atas motor menuju jalan Bantul. Pemandangan asri dari barisan pohon pinus, sawah menjadi pemuas dahaga lelah gue yang tidur tak cukup di malam hari. Dan tak perlu jauh untuk menemukan lokasi yang dimaksud, yap, beliau membawa gue ke sebuah pasar, bernama Pasar Niten. Dari penampakannya, pasar Bantul sangat khas karena pasar ini hanya menjual barang-barang bekas. Menus mengenalkan gue dengan Pak Dedi, pemilik salah satu kios yang menjual banyak piringan hitam Indonesia.

jogja3jogja2

Di kios yang cukup kecil itu, gue, Menus dan rekan kami, Andhika menghabiskan pagi itu dengan mencari musik, keping demi kepingnya. Tidak puas dengan apa yang kami bawa, kami diajak Pak Dedi menuju rumahnya yang ternyata tak jauh dari situ. Dan benar saja, tepat di teras rumahnya, kami disuguhi dengan banyak vinyl tertata rapih di lemari besar 4 barisnya.

andhikaadhika2andhika menus

“Silahkan dipilih aja mas, “kata Pak Dedi. Dan untuk beberapa jam ke depan, kami adalah tiga orang dikelilingi oleh banyak vinyl beserakan. Kalo boleh gue gambarin, pemandanganya persis anak kecil yang diberi mainan yang banyak. Betah sekali. Sate ayam dengan lontong pun menjadi makan siang kami. Jari jemari sudah hitam akibat memilah vinyl. Alhasil puluhan vinyl gue bawa sebagai hasil perburuan gue pagi – siang hari itu. Dalam perjalanan pulang, senyum puas ini tak pernah berhenti.

whistler post

Puas rasanya perburuan kami hari itu. Malam harinya, gue merayakannya dengan menonton kawan band dari ibukota, Barefood dan Whistler Post serta band Jogja, FSTVLST di teater Garasi, tak jauh dari homestay tempat gue. Malam itu, kekangenan gue akan Jogja terobati dengan mengobrol dengan kawan-kawan lama, Ojie, Ari Wulu serta Farid, vokalis FSTVLST yang amat eksentrik.

Gue pun menyerah tak bisa begadang kali ini, karena besok harus mengejar kereta pagi yang akan membawa gue pulang ke Jakarta. Jogja punya segudang cerita, #jajanrock kali ini sangat berarti buat gue. Bukan karena berapa banyak vinyl yang gue bawa, namun karena pengalamannya yang seru yang menyertainya.

Thank you vinyl for making me free to choose music i like.

Jogja, i’ll see you again soon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here