Dibuang Sayang: Catatan dari Jakartabeat

Dibuang Sayang: Catatan dari Jakartabeat

Siapakah Abstract Club Band? Siapakah grup Inpres? Bagaimana bisa Broery merip-off Todd Rundgren? Semua terjawab di ulasan saya berikut ini.

829
0
SHARE

Ulasan berikut saya ambil mentah-mentah dari tulisan saya di sebuah situs bernama Jakartabeat. Saya sudah beberapa kali menulis di Jakartabeat sebelum akhirnya saya memutuskan untuk membuat blog saya sendiri. Boleh dibilang, Jakartabeat lah salah satu trigger saya untuk membuat gilavinyl ini. Nah, di Edisi Juli 2012, saya diminta untuk  mengisi tulisan dengan payung besar mereka waktu itu bertajuk Occupy Jakartabeat. Mereka meminta beberapa narasumber atau penulis dari berbagai latar belakang untuk mereview beberapa temuan atau lagu dan album favorit mereka, dalam berbagai format. Saya memilih format vinyl atau piringan hitam.

Simak baik-baik ulasan saya.

Hits 2072 klik | Diposting pada 10 Juli 2012
Occupy Jakartabeat Vol. 3
Oleh:
Wahyu Nugroho

Buat anda yang kenal dengan vokalis Bangkutaman Wahyu “Acum” Nugroho pasti sudah tahu dengan sepak terjang dan pengabdiannya kepada musik Indonesia lama. Hal yang dia buktikan dengan mencari artefak rekaman musik Indonesia lama sampai ke sudut-sudut tergelap perkampungan di pedalaman Pulau Jawa. Dalam rangka Occupy Jakartabeat, Acum mau berbagi cerita tentang hasil perburuannya kepada kami. Daftar ini segara tidak sengaja mengingatkan kami kepada cikal-bakal website ini, sebuah blog kecil bernama berburuvinyl.wordpress.com. (Redaksi)

1. INPRES – “Eloi! Lama Sabactani” [Eloi! Lama Sabactani!, INPRES I/V/80, MUSICA]
Saya tidak tahu pasti siapa mereka dan seperti apa musiknya ketika saya menemukan vinyl ini di sebuah rumah dekat pesantren di Jogja, akhir bulan Juni lalu. Tips Googling tentang artis sebelum memutuskan memilih vinyl pun saya abaikan. Alasannya klasik: items-nya banyak, waktu sedikit. Gelap mata, saya ambil beberapa yang menyita mata saya.

Kemudian sembari memutarnya, saya membaca informasi tentang mereka. Hasilnya cukup mengagetkan. Berikut kutipan kasarnya via Indonesian Tunes:

“INPRES adalah grup dari sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada jaman itu di tengah udara dingin pagi Bandung bulan Februari 1980 tidak dapat melepaskan penginderaan mereka terhadap peristiwa eksekusi mati Kusni Kasdut yang terjadi di Greges Surabaya, peristiwa itulah yang mereka lukiskan di dalam album ini dan tema-tema sosial lainnya. INPRES adalah nama grup mereka, angka romawi I adalah notasi untuk album pertama, angka romawi V adalah jumlah personil mereka dan ’80 adalah tahun di mana album ini dirilis. Album ini hanya sempat beredar di masyarakat sekitar 2-3 bulan saja, ketika itu Pangkopkamtib meminta agar nama Inpres (Instruksi Presiden) yg mereka gunakan diganti dengan nama lain, pihak Musica menyampaikan problema tersebut kepada personil Inpres, tapi Inpres menolaknya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pihak Musica akhirnya menarik distribusi album ini yang telah tersebar.”

Grup ini terdiri dari lima orang dari banyak jurusan di ITB, dari Seni Rupa Patung, Tekstil, sampai Teknik Planologi. Mereka memainkan banyak instrumen di album ini: mandolin, banjo, gitar, ukulele, string, steel gitar , gitar 12 senar, harp, perkusi, bass drum, bellyre, suling blok, seruling besi, gitar, banjo tenor, dan perkusi, bass gitar, clarinet, piano, snaredrum, dan cymbals.

Eloi! Lama Sabactani! [baca: Allahku! Mengapa Engkau Meninggalkan Aku!] bahasa yang merupakan seruan Yesus Kristus ketika berada di kayu Salib di bukit Golgota, bisa jadi adalah sebuah tribute kepada sang Kusni Kasdut, sosok penjahat spesialis barang antik legendaris yang menurut beberapa sumber yang saya baca dikenal sebagai “Robin Hood”nya Indonesia, karena ia sering membagi-bagikan hasil jarahannya kepada kaum miskin. Ia meninggal 16 Februari 1980 dengan nama Ignatius Kusni Kasdut setelah ia dibaptis di Penjara.

Lagu “Eloi! Lama Sabactani” langsung menyita perhatian saya, sebuah lagu ultra-psych folk yang dibangun dari suasana-suasana “English Electric” dari ensemble-ensemble folk macam Steeleye Span, Incredible String Band, Pentangle, dan lainnya. Sebuah lagu ‘rohani’ yang memadukan iringan banjo mandolin, gitar 12 senar. Seruan lirik “Eloi! Lama Sabactani” bak seruan Kusni Kasdut ketika menghadapi regu tembak. Suara petir dan hujan, yang menghiasi lagu ini, seolah menandakan timah panas menembus tubuh Kusni. Akhir dari kehidupan. Suasana ini juga dibangun di lagu lainnya, Greges, Pagi Februari 1980.

Cerita tenar soal Kusni Kasdut juga konon, menurut beberapa sumber menjadi ide God Bless membuat lagu “Selamat Pagi Indonesia” di album Cermin.

Glad to have this song!

2. Abstract Club Band – Fool On The Hill [s/t, REMACO]
Saya tak pernah dengar tentang band ini sebelumnya sampai suatu kali di tahun 2008, saya menemukan LP-nya di sebuah gang sempit di Jogja. Begitu saya putar di rumah, saya baru sadar bahwa suara Margie Segers-lah yang mengisi tiap lagunya. Dan setelah menatap tajam-tajam ke covernya, saya baru tersadar bahwa sosok perempuan berambut afro tersebut adalah dirinya. Tak ada keterangan tahun berapa album ini dirilis, tapi menurut sumber yang minim, ini dirilis sekitar 1972 atau 1973. Abstract Club Band adalah band bentukan Fuad Hasan, drummer God Bless yang kemudian menggamit Margie sebagai vokalisnya. Kalau dilihat dari tiap komposisi yang ada di album ini, kelihatannya memang band ini khusus mengedepankan warna-warni pop jazz bersama Margie Segers.

“Fool On The Hill” satu komposisi milik The Beatles-lah yang menarik perhatian saya dari album ini. Sebuah cover song yang merombak 180 derajat kerangka dari lagu asalnya. Sebuah komposisi super-laid back, deep-psych-jazzy-soul, yang mengalun berat dengan beat-beat down tempo. Hammond sebagai dressing yang mempercantik, semua keindahan ada di sini. Suara Margie Segers nampak lain di sini. Dia mengerang-erang, seperti Aretha Franklin di lagu “Meadows of Springtime”, ketika suaranya ibarat balon udara yang membawa pendengarnya membumbung tinggi. Glad to find this song.

3. Bimbo & Iin – Kesana [Indonesia Antik II, REMACO]
Sosok Bimbo di masa lampau yang non-rohani kurang lebih telah banyak ditulis setelah lagu “Light My Fire”-nya The Doors yang dibawakan Bimbo terkuak. Lagu ini menarik perhatian saya. Sebuah lagu yang, lagi-lagi beraksen folk, yang berbicara tentang penatnya kehidupan kota dan keinginan utopis ke negeri penuh bunga dan embun. Suasana musik dibangun seperti berada di festival folk di Newport.

4. Golden Rhythm – Amanat [Amanat, Irma Records, 1976]
Menemukan vinyl dengan goresan memang tidak mengenakan, namun ketika saya menemukan LP ini dengan satu goresan-yang terlihat secara sengaja-di hanya lagu ini, rasa penasaran lah yang kemudian menjadi trigger saya membeli LP ini di sebuah malam di sebuah daerah pemukiman kampung di Jogja.

Secara kasat telinga, saya heran mengapa lagu soft-rock yang nikmat ini mengalami nasib ‘scracth on purpose’. Alasan mulai jelas ketika saya berusaha menyimak liriknya, terutama pada bagian intro solo vokalnya,

“Suatu saat, akan kukatakan, selamat tinggal Indonesiaku/Bila sampai waktuku/Aku rela melupakannya/Putus sudah harapanku/Akan kesejahteraanmu.”

Apa yang ada dipikiran saya adalah lirik yang menyiratkan akan keputusasaan anak muda akan negerinya sendiri. Saya tidak tahu apa yang ada di tahun 1970-an di era Soeharto dan pembangunannya dan apa dampaknya akan perkembangan musik populer saat itu. Namun yang jelas lagu ini menjadi simbol bahwa ada sesuatu yang menarik. Bagi anda yang mungkin memiliki kasetnya, lagu yang seharusnya ada di side A No. 2 sengaja dihapus dari pihak label. Sesuatu yang menarik?

5. Broery Pesulima – Hello – Hello [Salahkah, Bali Records]
Banyak cerita menarik soal lagu-lagu Indonesia yang jadi rip off dari lagu barat. Saya akhir-akhir ini mendengarkan lagu ini. Sebuah lagu 1970-an Broery yang tersusun dari barisan melodi-melodi hangat soft-rock 1970-an, ternyata hanyalah sebuah versi rip off Indonesia dari lagu “Hello, It’s Me”-nya Todd Rundgren. Menarik disimak!

foto: dok. Jakartabeat.net

Previous articleSepuluh Plat Bidikan
Next article5 Suasana Pas Untuk Mendengarkan Vinyl

Wahyu Nugroho. Akrab disapa dengan nama Acum. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan menjadi kontributor beberapa media seperti MaximumRocknRoll, Matabaca, Outmagz dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Selagi kuliah, waktu luang ia habiskan bersama bangkutaman, band yang akhirnya ‘mengutuknya’ sampai membuat dua album. Mengoleksi vinyl sejak 2007 dan telah hunting vinyl ke beberapa daerah dan kini berusaha mencatatkan pengalamannya dalam website ini.