5 Suasana Pas Untuk Mendengarkan Vinyl

    834
    0
    SHARE

    Memutar Vinyl atau piringan hitam adalah ritual yang menyenangkan. Tak seperti CD, mp3 dan perangkat musik digital lainnya yang bisa didengarkan dalam suasana apapun. Mendengarkan vinyl butuh waktu dan persiapan khusus dan intens. Waktu spesial. Bisa sangat merepotkan, tapi memang itu seru-nya. Bagaimana menyiapkan player/turntable, amplifier, speaker, sampai memilih vinyl apa yang bakal diputar pada saat tertentu  adalah ritual yang seru. Anda mungkin akan sibuk mencari pilihan yang pas di rak yang mungkin anda susun secara seru sesuai abjad, genre, tahun, dsb.

    Karena semua kerepotan ini, itu mengapa perlu ada waktu dan suasana khusus dimana kita bisa mendengarkan vinyl.

    1. Minggu Pagi

    Minggu pagi adalah waktu yang pas untuk melakukan ritual ini. Kenapa saya tidak memilih Sabtu pagi, ya karena mungkin bagi sebagian orang, adalah hari yang sempit. Ada saja mereka yang masih bekerja di hari Sabtu, apalagi wartawan. Di luar itu, seringnya orang memakai hari Sabtu untuk melakukan aktivitas seperti mencuci mobil, belanja bulanan, janjian sama teman/sahabat, dll. Nah, di minggu pagi ini, adalah waktu yang berkualitas untuk bersantai. Pilih jam 7 pagi, siapkan vinyl di ruang tamu anda (putar keras-keras) dan jangan lakukan apa-apa selain duduk di sofa sambil meneguk segelas kopi. Suatu hari saya diundang menginap di rumah salah seorang peng-#gilavinyl dari Jogja. Dia punya ritual memutar vinyl di hari minggu dari atas balkon rumahnya, sambil minum teh tubruk. Menarik!

    Seleksi-seleksi musik dari vinyl untuk di Minggu pagi pun menyesuaikan dengan suasananya. Ketika saya masih bekerja di Trax magazine, saya dan rekan sekerja saya Alvin, tidak sengaja sering menyebut istilah “musik minggu pagi” sebagai sebuah “genre” untuk rekaman-rekaman yang memang khusus diputar di minggu pagi. Beberapa dari rekaman itu adalah sebagai berikut:

    1. Ray Corniff – di lagu “We’ve Only Just Begun”
    2. Semua rekaman sunshine pop, dari yang kelas berat macam Free Design (misalnya lagu “My Brother Woody”), sampai rekaman ringan ala A&M dari The Sandpipers – “Minty Roses”
    3. Penyanyi singer/songwriter macam Gilbert O’Sullivan – “Clair” atau James Taylor – “Carolina in My Mind”
    4. Rekaman-rekaman Burt Bacharach, tak terkecuali yang dinyanyikan The Carpenters atau Donnie Warwick
    5. Soft Rock ala Steely Dan – (coba dengar “Only a Fool Would Say That”), penyanyi macam Dusty Springfield atau Carole King

    Intinya adalah rekaman-rekaman ringan yang tidak terlalu mikir untuk mendengarkannya.

    2. Melakukan Vinyl – Marathon

    Aktivitas ini mungkin aja dilakukan oleh beberapa orang. Saya pernah melakukannya. Vinyl marathon atau maraton vinyl, menurut definisi saya adalah aktivitas mendengarkan vinyl dari seluruh atau beberapa album dari satu artis/band dengan tujuan menikmati atau mencari tahu perjalanan musikal mereka.

    Terkadang saya menyebut istilah lucu dari maraton ini, seperti Zeppathon (mendengarkan seluruh album Led Zeppelin), Donovathon (untuk album-album Donovan), Sabbathon (untuk Black Sabbath) dan lain sebagainya.

    Paling tidak setahun 2 kali, saya melakukan aktivitas ini, biasanya saya butuh waktu khusus ketika liburan atau mengambil cuti. Jadi saya gunakan satu hari penuh untuk melakukan maraton ini. Istirahat hanya untuk makan dan mandi (itu juga kalau inget). Tak hanya mendengarkan, tentunya kemajutan teknologi saya gunakan untuk mencari tahun informasi dari tiap album, ulasan kritikus, dll tentang album yang saya putar. Dengan ini, otak saya bisa terisi dengan informasi menarik tentang artis yang bersangkutan. Karena menurut saya mendengarkan vinyl tak hanya menikmati rekamannya namun juga mencari tahu tentang sejarah rekaman ini. Bagaimana? tertarik untuk mencoba?

    3. Kumpul Keluarga

    First encounter saya di musik adalah ketika saya SD ibu saya sering memutarkan lagu-lagu dari Tetty Kadi, Ernie Djohan, TheBeatles, dll di meja makan ketika kami sarapan pagi sebelum saya berangkat sekolah.

    Tradisi ini entah mengapa hilang ketika SMA, mungkin karena kesibukan ibu, banyaknya PR yang mungkin saya kejar, dan lain sebagainya.

    Tidak sampai akhirnya ketika saya menempatkan vinyl player portable di ruang keluar kami, pada suatu hari. Saya memutarnya dan memainkan rekaman-rekaman Ernie Djohan, Tety Kady, Lilis Surjani yang saya ingat waktu jaman SD dulu. Ibu saya tersenyum dan mengingat cerita itu.

    It was fun bahwa musik bisa membawa kembali ke kenangan – kenangan tertentu yang manis.

    Atau bagi anda yang sudah berkeluarga, putar vinyl kesukaan anda dan bermain lah bersama istri dan anak anda di taman belakang rumah. Fun times!

    4. Kemping 

    Bagi sebagian orang yang tidak mau repot dengan amplifier dan speaker besar, pilihan portable pun menjadi pilihan. Tak ada yang salah. Malah player portable yang praktis dibawa kemana-mana itu bakal menjadi penambah suasana yang enak untuk menikmati vinyl.

    Bayangkan anda kemping bersama teman-teman. Berkumpul melingkar di depan tenda sambil mendengarkan vinyl ditemani kopi dan mie instan panas dengan aroma MSG yang aduhai nikmatnya. Ambil rekaman-rekaman yang pas didengarkan outdoor, bukan rekaman shoegaze atau punk, apalagi hardcore dan metal, namun rekaman musik pop 60-an, 70-an, minimalis, mungkin dance, yang bisa bikin anda dan teman-teman bernyanyi bersama. Tak ada yang lebih baik untuk menggambarkan suasana pagi di hutan pinus menikmati angin dingin yang berkabut, sedikit sinar matahari, bersama musik-musik dari Crosby Stills & Nash, Simon and Garfunkel, dll

    5. DJ Party 

    Ruang gelap, lampu kelap-kelip, vinyl juga enak dinikmati dalam suasana ramai bersama teman-teman. Saya sering mendatangi acara DJ yang memainkan musik-musik menarik dari R&B, Ska, Reggae, 90s, shoegaze, britpop, sampai Hip hop. Saya terkesima oleh tingkah DJ yang lihai merangkai lagu demi lagu dengan begitu halus. Goyangkan tangan, kaki dan kepala untuk menikmati setiap hentakan musik, dari perkawinan mesra antara jarum dan vinyl yang saling bersentuhan.

    foto diambil dari madebymood.com

    Previous articleDibuang Sayang: Catatan dari Jakartabeat
    Next article5 Alasan Kenapa Vinyl 7 Inci Itu Keren

    Wahyu Nugroho. Akrab disapa dengan nama Acum. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan menjadi kontributor beberapa media seperti MaximumRocknRoll, Matabaca, Outmagz dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Selagi kuliah, waktu luang ia habiskan bersama bangkutaman, band yang akhirnya ‘mengutuknya’ sampai membuat dua album. Mengoleksi vinyl sejak 2007 dan telah hunting vinyl ke beberapa daerah dan kini berusaha mencatatkan pengalamannya dalam website ini.